Wapres Boediono Mengeluh Mahalnya Biaya Kesehatan


TEMPO.COJakarta– Seperti rakyat kebanyakan, Wakil Presiden Boediono pun mengeluhkan mahalnya biaya kesehatan untuk kaum lanjut usia. “Sebelumnya mohon maaf ke Bu Menteri Kesehatan, tetapi kalau bayar sendiri memang biaya kesehatan makin mahal. Padahal itu aspek sangat penting bagi lansia untuk tetap berguna, produktif, dan menikmati hidup,” katanya saat menyambut ratusan orang lanjut usia di acara Peringatan Hari Lansia Internasional, di Kantor Wakil Presiden, Kamis 22 Desember 2011.

Menteri Kesehatan Endang Rahayu hadir dalam acara ini bersama Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat  Agung Laksono, Menteri Sosial Salim Segaf al Jufri, dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh. Mantan Gubernur Bank Indonesiakelahiran Blitar 25 Februari 1943 pun meminta jajaran menteri untuk lebih memperhatikan aspek kesehatan dengan makin banyaknya lansia. “Apalagi Wapresnya juga lansia. Sudah 68 tahun, delapan tahun di atas ambang,” tuturnya bercanda.

Saat ini, kata Boediono, pemerintah masih memproses terbentuknya Badan Pengelola Jaminan Sosial hingga tenggat waktu 2014. Di antaranya diperlukan kesiapan soal biaya, sumber daya, suplai dokter, obat dan Rumah Sakit yang bekerja sama. “Negara beradab kan butuh sistem jaminan sosial kesehatan yang memadai,” kata dia.

Boediono pun meminta secara khusus agar Jaminan Sosial Lanjut Usia (JSLU) lebih banyak menjangkau lansia telantar. “Apalagi katanya lansia miskin mencapai 20 persen dari jumlah lansia yang ada,” ujar dia.

Sebelumnya di kesempatan yang sama, Menteri Sosial Salim Segaf Al-Jufri menyatakan proporsi penduduk lanjut usia di Indonesia sudah sekitar 10 persen dari jumlah penduduk Indonesia. Data Kementerian Sosial pada 2010 memperlihatkan jumlah penduduk lanjut usia sebanyak 23.992.533 jiwa dimana sekitar 2,8 juta termasuk lansia terlantar.

“Karena itu diperlukan banyak program penghormatan terhadap lansia seperti penataan fisik bangunan untuk lansia, posyandu lansia, pusat santunan keluarga untuk lansia di tengah masyarakat, panti sosial lansia, home care, day care dan jaminan kesehatan lansia,” kata Salim dalam sambutan pencanangan Gerakan Nasional Lansia Peduli, di Kantor Wakil Presiden, Kamis 22 Desember 2011.

Dalam acara yang sekaligus peringatan hari Lanjut Usia Internasional yang seharusnya dirayakan setiap 1 Oktober, Salim mengakui baru sedikit lansia yang terjangkau Jaminan Sosial Lanjut Usia (JSLU). Hingga 2011, baru sekitar 20 ribu lansia yang terjangkau jaminan sebesar Rp 300 ribu per bulan per satu jiwa. Ditargetkan di 2012, lansia yang terjangkau jaminan sosial ini bisa mencapai 26.500 jiwa. “Memang masih sedikit dibanding jumlah lansia yang ada,” kata dia. Walau, setidaknya sudah terdapat 278 panti sosial tresna werda dan telah didirikan Komisi Nasional Lansia sejak 2005.

Haryono Suyono,Pembina Gerakan Nasional Lansia Peduli, menyatakan selama 40 tahun peningkatan jumlah lansia pun mencapai 10 kali lipat. “Tahun 1970 itu baru sekitar 2 juta, tetapi di 2010 sudah sekitar 20 juta,” kata dia.

ARYANI KRISTANTI

 

Sumber : Tempo.co

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s